DISCERNMENT DALAM PEMBENTUKAN OPSI FUNDAMENTAL MENUJU KEUTAMAAN


 DISCERNMENT DALAM PEMBENTUKAN OPSI FUNDAMENTAL 

MENUJU KEUTAMAAN

Oleh Sdr. Indra Yosef Muliyawan OFMCap

I.           Pengantar

Dalam menjalani hidup, setiap orang akan selalu dihadapkan pada situasi yang membuat ia harus memilih. Setiap pilihan yang diambil secara bebas dan berdasarkan kepentingan, menentukan arah hidup seseorang, dan pilihan itu menunjukkan kualitas diri. Pilihan yang menentukan itu dapat disebut juga sebagai pilihan dasar (opsi fundamental).

Hidup moral seseorang ditentukan oleh penghayatan opsi fundamentalnya, yang diekspresikan dalam pilihan partikularnya[1]. Opsi partikular dapat disadari dalam kehidupan sehari-hari, di mana seseorang melakukan kegiatan hariannya dengan sejumlah pilihan-pilihan kecil dalam melakukan sesuatu. Dapat dikatakan bahwa opsi fundamental dan opsi partikular memiliki hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Dalam tulisan ini, penulis tidak menerjemahkan discernment ke dalam bahasa Indonesia, sebagai cara sederhana dan mudah untuk mempertahankan maknanya yang kompleks. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melihat peran dan tujuan discernment sebagai usaha melaksanakan kehendak Allah, mulai dari awal penentuan opsi fundamental hingga menjadi sebuah keutamaan dalam hidup. Namun, ada kemungkinan opsi fundamental itu memudar atau mati. Matinya opsi fundamental berkaitan dengan opsi partikular yang tidak lagi mendukung opsi fundamental. Dalam hal ini, discerment dapat dipandang sebagai “alat” yang memampukan setiap orang untuk setia dan bersungguh-sungguh dalam menghidupi opsi fundamentalnya.


II.       Peran Discernment dalam Opsi Fundamental

1.        Opsi Fundamental dan Opsi Partikular

Opsi fundamental dan opsi partikular memiliki hubungan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Opsi fundamental merupakan pilihan dasar dan penting yang diambil seseorang secara bebas, yang menentukan arah hidup dan mengekspresikan kualitas pribadi[2]. Penghayatan seseorang pada opsi fundamentalnya, ditunjukkan dalam menghidupi opsi partikularnya. Opsi partikular adalah pilihan biasa atau pilihan kecil yang dilakukan dalam hidup sehari-hari[3].

Kesungguhan seseorang dalam menjalani opsi fundamentalnya menentukan apa yang menjadi opsi partikularnya. Sebaliknya, kesetiaan dalam menghidupi opsi partikular memberikan pengaruh positif bagi seseorang untuk bertekun dalam memperjuangkan opsi fundamentalnya. Misalnya, seorang Katolik mengambil opsi fundamental menjadi seorang religius dalam suatu lembaga hidup bakti. Seorang religius yang bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan opsi fundamentalnya akan mengambil opsi partikularnya dengan setia hadir dalam setiap ibadat harian, perayaan Ekaristi, dan rutin melakukan meditasi, demi meningkatkan kualitas hidup doanya. Contoh opsi partikular lain adalah membaca Kitab Suci dan bacaan-bacaan rohani, demi meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya tentang iman Katolik.

Proses pembentukan opsi fundamental[4] dimulai dari masa kanak-kanak hingga mencapai kematangan sebagai pribadi yang dewasa. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: (1) berlangsung lambat; (2) kesadaran condong pada kebaikan dan kebahagiaan sejati; (3) membiasakan opsi partikular yang mendukung opsi fundamental; (4) memiliki kemungkinan bahwa opsi fundamental memudar dan mati, dan prosesnya memakan waktu yang lama; (5) menentukan arah, sikap, dan opsi fundamental seseorang di masa mendatang.


2.        Discernment [5]

Discernment adalah proses untuk mencapai wawasan dan pemahaman; itu adalah kemampuan untuk mengerti dan memahami apa yang samar atau tidak jelas. Kata ini berasal dari bahasa Latin discretio (kebijaksanaan, kehati-hatian, penilaian yang baik). Dalam tradisi Kristen awal discretio dikaitkan dengan konsep "pembedaan roh" yang ditemukan dalam 1Kor 12:10 dan 1Yoh 4:1. Discretio mungkin merupakan praktik yang dipinjam dari kaum Essene di Qumran. Bagi komunitas monastik ini, pembedaan roh berarti memeriksa semangat dan tindakan para kandidat terhadap cara hidup mereka. Orang-orang di abad pertama Kristen percaya bahwa orang dapat dirasuki oleh “roh baik” atau “roh jahat”. Roh-roh ini adalah sikap dan kecenderungan yang memotivasi kata-kata dan perbuatan seseorang. Setiap roh yang mengakui Sabda Tuhan yang berinkarnasi di dalam Yesus, adalah roh yang berasal dari Tuhan. Roh-roh ini diterangi oleh Roh Kudus, dan menurut Paulus mereka menghasilkan buah yang baik: amal kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan hati, kesabaran, belas kasihan dan pengendalian diri (Gal 5:22-23)

Di masa sekarang, discernment dimaksudkan untuk membantu setiap orang untuk menilai inspirasi, intuisi, impuls, dan keadaan afektif yang memotivasi keseluruhan arah hidup kita. Dengan discernment, seseorang datang ke kesadaran akan panggilan Tuhan dalam hidupnya. Panggilan ini seringkali tidak jelas dan membutuhkan pemahaman yang hanya dapat diterima dengan iman dan Roh Kudus. Roh Kudus mengilhami setiap orang, baik dari dalam maupun dari luar dirinya.


3.      Menuju Keutamaan

Discernment memegang peranan penting dalam pembentukan opsi fundamental. Tidak salah jika opsi fundamental dipahami sebagai sebuah panggilan dalam hidup. Membiasakan pilihan partikular yang menjadikan opsi fundamentalnya sebagai suatu kebiasaan (habitus) tidaklah mudah, dan tidak bisa tanpa melalui proses discernment. Setiap orang perlu melakukan “pembedaan roh” untuk dapat memastikan apakah motivasi dan semangat dalam menghidupi pilihan memang merupakan ilham dari Roh Kudus. Discernment membantu orang untuk konsisten dalam opsi fundamental. Orang yang konsisten dalam menghayati opsi fundamental akan memiliki keutamaan (virtus)[6]. Kebiasaan berbuat baik akan menghasilkan buah yang baik, dan mendatangkan kebahagiaan sejati.


III.    Kesimpulan

Discerment adalah sarana bagi seseorang untuk dapat melaksanakan kehendak Allah. Hal ini didasari oleh rasa cinta pada Allah, yang merupakan salah satu opsi paling fundamental yang harus diambil. Discernment berperan dalam usaha seseorang untuk menghidupi opsi fundamentalnya. Ketika usaha itu menjadi sebuah kebiasaan (habitus), seseorang akan memiliki keutamaan (virtus) dalam hidupnya. Seseorang yang memiliki keutamaan akan mengambil keputusan yang bukan berdasarkan kesukaan atau keinginan pribadi belaka, melainkan keputusan yang dihasilkan dari inner-self-nya.

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Cavazoz-Gonzalez, Gilberto. Discernment with a Little Help from Francis and Clare. Horizon: Journal of the National Religious Vocation Conference [Online], 34.1 (2008): 4-7. https://nrvc.net/publication/download/2356/2008-horizon-no-1-fall.pdf?format=.pdf. (Diakses 2 Desember 2021).

Nadeak, Largus. Topik-topik Teologi Moral Fundamental. Medan: Bina Media, 2015.

 



[1] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental, (Medan: Bina Media, 2015), hlm. 48.

[2] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental, (Medan: Bina Media, 2015), hlm. 46.

[3] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental, (Medan: Bina Media, 2015), hlm. 46.

[4] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental, (Medan: Bina Media, 2015), hlm. 47.

[5] Gilberto Cavazoz-Gonzalez. Discernment with a Little Help from Francis and Clare. Horizon: Journal of the National Religious Vocation Conference [Online], 34.1 (2008): 4-7. Web. (Diakses 2 Desember 2021), hlm. 4.

              [6] Largus Nadeak, Topik-topik Teologi Moral Fundamental, (Medan: Bina Media, 2015), hlm. 48.

Komentar